“Keberlanjutan” kini telah menjadi suatu kata kunci yang memiliki kekuatan. Begitu besar kekuatannya, hingga para pemimpin serta aktivis global mulai berani mendorong perubahan yang dapat bermanfaat bagi masyarakat luas. Dalam arti lebih luas, keberlanjutan sendiri mengacu pada solusi akhir yang memungkinkan individu untuk tetap memenuhi kebutuhannya sendiri, tanpa harus mengorbankan sumber daya yang dibutuhkan oleh generasi mendatang.
Terbagi ke dalam tiga pilar inti— lingkungan, sosial, dan ekonomi— yang semuanya memainkan peran besar dalam mewujudkan “keberlanjutan sejati”, dapat terlihat dengan jelas bahwa tujuan yang ada dalam masyarakat berkaitan dengan hal-hal yang menyangkut di luar lingkungan. Mengenai aspek kehidupan sehari-hari, seperti keadilan sosial dan pembangunan ekonomi, keberlanjutan menjadi sebuah konsep multidimensi yang akan melindungi ekosistem serta melestarikan sumber daya alam dalam jangka panjang. Pendekatan holistik yang akan memastikan bahwa ekosistem akan terus berfungsi selama bertahun-tahun yang akan datang, memerlukan penerapan praktik berkelanjutan dari masing-masing individu dan pertimbangan oleh dunia usaha untuk membuat perubahan ‘hijau’ dalam segala hal, mulai dari manufaktur hingga layanan pelanggan.
Sejak tahun 2017, Indonesia telah menyatakan tujuannya untuk mengintegrasikan pertumbuhan hijau rendah karbon ke dalam strategi pembangunan nasional. Selain inisiatif-inisiatif sebelumnya, pemerintah Indonesia juga secara aktif telah memperbarui kontribusi yang ditentukan secara nasional (terbaru di akhir tahun 2021), yang menyatakan bahwa negara bertekad untuk mencapai emisi nol-bersih pada tahun 2060, dan berkomitmen untuk menghentikan dan mengembalikan hutan yang terdeforestasi.
Namun, hal ini tentunya tidak akan mudah. Sebagai negara terpadat keempat di dunia, upaya individu tetap dibutuhkan dalam mencapai tujuan yang ingin diwujudkan oleh gerakan hidup berkelanjutan. Pentingnya tanggung jawab pribadi ini berkaitan juga dengan peningkatan lalu lintas kendaraan bermotor dan ketergantungan yang lebih besar akan batu bara. Perubahan dan ketergantungan berat pada hal-hal yang berdampak negatif terhadap lingkungan telah begitu drastis terjadi, sehingga sekitar 60% penduduk Jakarta sekarang menderita penyakit yang berhubungan dengan polusi udara.
Jika melihat tantangan yang harus dihadapi pemerintah, hingga konsekuensi yang harus dihadapi penduduk saat ini, dapat disimpulkan bahwa belum ada pendekatan yang pas untuk semua aspek demi menyelamatkan bumi serta generasi mendatang. Agar gaya hidup keberlanjutan dapat menjadi kenyataan, setiap orang dan organisasi harus dapat memainkan peran mereka.
Ketika berbicara mengenai apa yang dapat dilakukan individu untuk lingkungan, praktik gaya hidup berkelanjutan merupakan suatu keharusan untuk dilakukan. Hidup berkelanjutan tidak hanya menjadi gaya hidup, tetapi juga cara yang dapat membantu mengurangi dampak negatif dari pencemaran lingkungan. Gaya hidup berkelanjutan akan berfokus pada empat pilar utama; meminimalkan limbah, membatasi penggunaan sumber daya alam, memanfaatkan lingkungan secara bijaksana, dan memastikan lingkungan hidup yang berkualitas. Melakukan hal-hal tersebut dapat membantu untuk meningkatkan kualitas udara, melestarikan sumber daya alam, meningkatkan kesehatan masyarakat, serta mempersiapkan masyarakat yang berpikiran berkelanjutan untuk pertumbuhan, memelihara sumber daya untuk generasi mendatang, memperlambat perubahan iklim, membangun pembangunan ekonomi, dan lebih banyak lagi.
Pilar-pilar yang telah disebutkan di atas dapat menjadi prinsip panduan untuk menempa inisiatif atau cara hidup yang dapat mendukung gaya hidup berkelanjutan menjadi lebih stabil. Hal ini terutama terjadi karena kehidupan yang berkelanjutan dapat sebenarnya sangat sederhana. Bisa dimulai dengan membuat pilihan untuk mengubah cara Anda makan atau berapa banyak listrik yang digunakan. Kebiasaan hidup berkelanjutan lainnya yang cenderung dimiliki adalah membeli makanan lokal dan musiman, mengurangi konsumsi daging, dan membeli barang yang terbuat dari bahan daur ulang.
Liwa Supriyanti kemudian menjelaskan sendiri metodenya untuk menjalani gaya hidup yang berkelanjutan. “Sementara rencana aksi di seluruh organisasi dilaksanakan oleh Gunung Prisma, saya sendiri sudah memulai perjalanan menuju kehidupan yang berkelanjutan. Dengan menyadari bagaimana keputusan harian saya dapat mempengaruhi planet kita, saya mulai mengembangkan kebiasaan yang lebih sehat. Dari daur ulang hingga mengonsumsi sesuatu yang lebih ramah lingkungan. Saya percaya bahwa penting untuk hidup sesuai kemampuan kita sebagai umat manusia. `
Motivasi soal gaya hidup berkelanjutan dapat menjadi kompleks bagi banyak orang, dan tidak diragukan lagi merupakan bagian dari perjalanan pribadi dan beragam yang akan melewati banyak pasang surut dan penyesuaian yang konstan. Sebagai nilai, keberlanjutan adalah nilai yang dimiliki bersama oleh individu dan organisasi yang menunjukkannya melalui kebijakan, aktivitas sehari-hari, perilaku, dan pilihan sehari-hari mereka.
Dengan tanggung jawab utama untuk memberikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, pembangunan sosial, dan perlindungan lingkungan secara bertanggung jawab, Gunung Prisma telah memimpin banyak inisiatif hijau. Liwa juga menyatakan, “Tidak dapat disangkal bahwa setiap individu telah melakukan bagian mereka dalam mengembangkan keadaan lingkungan dan sosial kita saat ini. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat saat ini dan generasi mendatang untuk menciptakan solusi inovatif, beradaptasi dengan perubahan, dan melakukan bagian mereka dengan menjalani kehidupan yang berkelanjutan.”