Tanggung jawab sosial adalah tugas semua individu dan organisasi untuk tidak mengambil andil dalam kerusakan lingkungan, dengan cara memberikan pengaruh positif dalam masyarakat. Hal ini sangat penting bagi individu dan pelaku bisnis – dan beban tanggung jawab ini harus dibagi secara merata oleh kedua belah pihak. Pelaku bisnis memiliki sumber daya dan kekuatan untuk mendorong perubahan yang signifikan, tetapi upaya individu juga bisa sama kuatnya.
Saat ini, konsumen menuntut lebih banyak dari pelaku bisnis. Lebih dari sepertiga konsumen global bersedia membayar lebih untuk bisnis yang lebih mementingkan unsur keberlanjutan, dan hal ini mulai didengarkan oleh pelaku bisnis. Banyak perusahaan domestik dan multinasional, seperti Unilever Indonesia, Nestle, Coca-Cola dan Exxon Mobil secara sukarela mengadopsi program CSR.
Di blog ini kami membahas bagaimana persepsi konsumen tentang masalah sosial yang terjadi dan membandingkan perbedaannya antar generasi, serta bagaimana tanggung jawab sosial yang dilakukan secara pribadi cocok dengan CSR dan apa yang dapat dilakukan pelaku bisnis untuk menghasilkan perubahan yang bersifat positif.
Masyarakat di zaman sekarang lebih peduli tentang dunia di sekitar mereka, daripada generasi sebelumnya. Isu-isu seperti ketidaksetaraan gender, perubahan iklim dan ketidakadilan sosial menjadi prioritas untuk sebagian besar masyarakat. 71% orang Amerika percaya bahwa “sedikit” atau “sangat penting” bagi perusahaan untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.
Di generasi yang berbeda, ada perubahan nyata pada cara mereka memandang suatu merek dan membuat keputusan dalam membeli. Sebelum membeli suatu merek, generasi muda berupaya lebih keras untuk memahami CSR yang dilakukan oleh perusahaan merek tersebut: setidaknya hal ini dilakukan oleh 41% milenial, dibandingkan dengan 27% Gen X dan 16% Baby Boomers. Gen Z mengharapkan pelaku bisnis atau suatu merek untuk mengambil sikap dan melakukannya bukan untuk kepentingan tertentu, tetapi karena hal tersebut sejalan dengan tujuan dan misi mereka secara keseluruhan. Mereka juga memahami tentang bagaimana sebuah merek menggambarkan dirinya sendiri dan apakah pemasaran yang dilakukan bertentangan dengan tindakannya.
Corporate Social Responsibility (CSR) banyak dibicarakan dan menjadi agenda penting hampir di setiap perusahaan. Tetapi peran individu dalam CSR sering kali diabaikan. Tanggung Jawab Sosial Pribadi adalah tanggung jawab individu untuk merawat lingkungan dan masyarakat tempat mereka tinggal. Dimulai dari individu dan pilihannya. Individu memiliki kekuatan untuk menekan perusahaan dan pemerintah jika praktik perusahaan yang dijalankan merusak lingkungan atau jika perusahaan tersebut tidak memperlakukan pekerjanya dengan baik. Dalam survei nasional yang dilakukan di Spanyol pada tahun 2015, 49% dari pekerja (individu) yang disurvei siap memboikot perusahaan atau merek yang tidak bertanggung jawab.
Corporate Social Responsibility (CSR): Istilah tanggung jawab sosial perusahaan diciptakan pada 1953 oleh ekonom Amerika Howard Bowen dalam publikasinya yang berjudul Tanggung Jawab Sosial Pengusaha. Pada 1970-an, konsumen menjadi lebih sadar tentang bagaimana perusahaan besar yang mengejar keuntungan dapat menyebabkan kerusakan besar pada lingkungan. Hal tersebut memicu dimulainya kebangkitan dan tuntutan agar produsen bisnis lebih bertanggung jawab atas tindakan mereka. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dapat diatur ke dalam piramida dengan empat lapisan, seperti artikel yang diterbitkan oleh Dr Archie B. Carroll. Empat lapisan tanggung jawab sosial perusahaan adalah sebagai berikut:
Masing-masing dari kita memiliki kewajiban moral untuk bertindak demi kepentingan lingkungan dan masyarakat. Manfaat tambahan bagi pelaku bisnis, adalah mereka dapat meningkatkan pendapatan dengan bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial. Hal ini juga bisa meningkatkan persepsi yang baik terhadap merek mereka, membantu meningkatkan loyalitas dan mempertahankan pelanggan, melibatkan karyawan dan membangun budaya internal, serta memenangkan dukungan dari komunitas lokal.
Agar sebuah merek dapat bertahan di zaman sekarang dan tetap kompetitif, penting bagi suatu perusahaan untuk mengambil langkah-langkah untuk mengurangi jejak karbon yang dihasilkan. Sebagai contoh, Gunung Prisma menawarkan solusi baja hijau – baja yang dibuat dengan hidrogen, bukan batu bara – yang secara drastis membantu mengurangi tingkat emisi karbon selama proses produksi.
Untuk bertanggung jawab secara sosial, pemilik bisnis pertama-tama harus memulainya dari internal, dengan cara menerapkan budaya sentris. Misalnya dengan memastikan tidak ada diskriminasi yang terjadi selama perekrutan atau di tempat kerja, serta perusahaan dapat memastikan bahwa mereka mempromosikan budaya yang beragam dan inklusif. Perusahaan juga dapat melihat upaya sosial sebagai cara untuk mengangkat komunitas mereka menjadi bagian dari perusahaannya sendiri, bisa dengan cara mengorganisir acara penggalangan dana atau menjadi sukarelawan di dapur umum.
Gunung Prisma yang dipimpin oleh Liwa Supriyanti, mengumpulkan sumber dayanya untuk membantu penduduk desa Nangela membangun jembatan, memberi mereka akses ke kota dan fasilitas penting lainnya. Beliau memiliki semangat untuk menerapkan perubahan di komunitasnya dan meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan. Cari tahu lebih lanjut tentang bagaimana Liwa terlibat dalam upaya tersebut dan bagaimana bisnis Anda dapat menerapkan inisiatif ini.