Tantangan Kewirausahaan yang Dihadapi Perempuan Muda Indonesia

Di Indonesia, kewirausahaan merupakan kontributor yang signifikan bagi kemakmuran dan perekonomian negara. Hal ini juga penting dalam penciptaan lapangan kerja bagi penduduk setempat. Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) menyumbang 97% pekerjaan rumah tangga yang cukup mengejutkan di negara Asia Tenggara.

Perempuan memainkan peran penting dalam memajukan pengembangan kewirausahaan di Indonesia. Karena jumlah pengusaha perempuan di Indonesia meningkat setiap tahunnya, mereka memiliki potensi besar untuk mendorong perubahan dalam komunitas dan membawa kemajuan di daerah pedesaan. Namun, perempuan di Indonesia terus menghadapi hambatan seperti diskriminasi gender, kurangnya sumber daya dan terbatasnya akses terhadap pendidikan berkualitas.

Dalam artikel ini, kami membahas mengapa kewirausahaan itu penting dan menjabarkan tantangan yang dihadapi perempuan saat memulai dan mempertahankan bisnis mereka.

Mengapa kewirausahaan dinilai penting bagi perempuan Indonesia?

Menurut laporan tahun 2018 yang dilakukan oleh OECD, pemerintah daerah mengakui pentingnya UMKM dan bagaimana UMKM mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan inklusi sosial. Bagi perempuan, kewirausahaan dinilai penting, karena menawarkan kemandirian finansial dan kepercayaan diri untuk membuat keputusan, serta melakukan kontrol atas berbagai bidang kehidupan mereka.

Pekerjaan formal juga disertai dengan serangkaian tantangan lainnya, seperti ketidaksetaraan upah, pelecehan seksual, dan praktik perekrutan yang diskriminatif – membuat kewirausahaan menjadi pilihan karir alternatif yang menarik bagi perempuan Indonesia. Kewirausahaan juga penting bagi perempuan di Indonesia, karena menawarkan fleksibilitas untuk mendapatkan penghasilan, sambil tetap menjalankan tanggung jawab mereka masing-masing.

Meskipun kewirausahaan memiliki banyak hal untuk ditawarkan kepada perempuan muda Indonesia, namun hal tersebut tidak terlepas dari tantangan yang harus mereka hadapi.

Apa saja tantangan yang dihadapi oleh perempuan Indonesia?

1. Perempuan tidak menerima pendidikan yang berkualitas

Anak-anak perempuan tidak dapat tetap bersekolah karena beberapa alasan, di antaranya kendala keuangan, pernikahan anak, hingga keadaan yang memaksa untuk masuk ke dunia kerja lebih awal. Dalam survei yang dilakukan oleh UNESCO, setengah dari perempuan yang disurvei merasa bahwa sumber daya keuangan yang tidak memadai menghalangi mereka untuk menerima pendidikan berkualitas ke jenjang selanjutnya.

Terdapat juga kemungkinan yang lebih besar bagi anak perempuan di dalam keluarga untuk dikeluarkan dari sekolah daripada anak laki-laki. 46 juta remaja di Indonesia, hampir 25% dari mereka yang berusia 15 hingga 19 tahun, tidak mengenyam pendidikan, pekerjaan, atau pelatihan, menurut UNICEF. Indonesia juga salah satu yang memiliki tingkat pernikahan anak tertinggi di dunia, dengan 1 dari 9 anak menikah sebelum berusia 18 tahun.

2. Norma dan harapan terhadap suatu gender tertentu yang mengakar kuat

Stereotip gender terus mempengaruhi ekspektasi masyarakat Indonesia terhadap perempuan. Keyakinan patriarki mengakar kuat dan laki-laki masih dipandang sebagai pencari nafkah keluarga. Hal Ini mengikis harapan perempuan muda di Indonesia terhadap diri sendiri. Lingkungan yang mengecilkan hati mereka yang memiliki ambisi tinggi dalam pendidikan dan persepsi negatif masyarakat terhadap keberhasilan ekonomi seorang perempuan, merupakan lingkungan yang membuat mereka sulit berkembang.

Dibandingkan dengan remaja laki-laki, remaja perempuan diharapkan untuk mengambil bagian lebih banyak dari pekerjaan rumah tangga, sehingga membatasi waktu mereka untuk pekerjaan sekolah atau bermain dengan teman-teman. Hal ini tentu dapat membatasi perkembangan keterampilan interpersonal, merusak kepercayaan diri, sehingga pada akhirnya menempatkan perempuan pada jalur yang lebih lambat daripada teman laki-laki mereka.

3. Akses terbatas ke sumber daya

Perempuan di Indonesia juga melaporkan sulitnya akses yang mereka dapatkan di dalam sektor keuangan. Karena undang-undang yang mendiskriminasi dan membatasi hak kepemilikan perempuan atas properti, mereka hanya memiliki sedikit akses ke modal yang diperlukan untuk memulai atau mempertahankan bisnis. Meskipun ada hibah pemerintah yang telah diluncurkan untuk mendukung usaha perempuan, lebih dari 60% perempuan melaporkan bahwa kendala keuangan menghalangi mereka untuk memulai bisnis.

Perempuan juga menyatakan bahwa mereka kurang memiliki akses terhadap informasi dan tidak memiliki keterampilan, serta pengetahuan kewirausahaan yang cukup untuk mengembangkan usahanya. Hal tersebut dapat mencakup perencanaan keuangan, pengembangan bisnis, dan pemasaran. Mereka juga melaporkan bahwa mereka kurang pengalaman untuk membawa bisnis kecilnya mencapai kesuksesan lebih jauh, dengan mengetahui cara menjual secara online dan mengekspor secara internasional.

Peran Liwa Supriyanti dalam memberantas ketidaksetaraan gender

Agar Indonesia dapat mengambil langkah pasti menuju kemajuan dan kemakmuran, negara perlu memastikan bahwa perempuan diberikan dukungan yang tepat dan sumber daya yang memadai untuk membangun bisnis mereka sendiri.

Ketika perempuan mendirikan dan menjalankan bisnisnya sendiri, mereka memiliki potensi untuk membangun komunitas yang saling mendukung dan menginspirasi. Dengan memberikan kesempatan bekerja bagi individu dari latar belakang sosial yang kurang beruntung, bisnis yang mereka jalani juga dapat membawa perubahan positif di komunitas mereka.

Perempuan muda menyatakan bahwa memiliki panutan positif dalam hidup mereka adalah kunci untuk keberhasilan. Liwa Supriyanti, kepala perusahaan perdagangan baja internasional, Gunung Prisma, menawarkan hal itu kepada perempuan muda di Indonesia. Liwa mendorong perubahan lingkungan dan sosial melalui perannya sebagai direktur, serta menginspirasi perempuan muda untuk percaya bahwa menjadi pemimpin bisnis yang sukses itu memungkinkan. Cari tahu lebih banyak tentang Liwa Supriyanti dan motivasi yang beliau lakukan dalam perubahan sosial di sini.